Sabtu, 05 Juli 2014

Meraih Kebahagian Hakiki dengan tercapainya Kekuatan Berpikir Ilmiah dan Kekuatan Melaksanakan Kehendak



Meraih Kebahagian Hakiki dengan tercapainya Kekuatan Berpikir Ilmiah dan Kekuatan Melaksanakan Kehendak

 Kebahagian merupakan impian setiap manusia. Tak penting apa makna yang yang terkandung dalam benak manusia tersebut terkait kebahagian. Karena kebahagian adalah keinginan seseoarang untuk melengkapi dan lebih memberi warna dalam hidup. Kebahagian akan tercapai dengan kesuksesan. Bukan berarti bahwa kesuksesan sudah tentu bahagia. Melainkan kebahagiaan tentulah bagian dari kesuksesan. Semua keinginan menuju kebagian akan tergapai dengan usaha. Usaha itu adalah kekuatan berpikir ilmiah dan kekuatan melaksanakan. Dengan dua usaha tersebut, Inya Allah akan tercapailah kebahagian yang didamba-dambakan. Kebahagian yang datang dari Allah Subhaanahu wata`ala.Kebahagian ini tentulah hakiki dan dapat menambah ke-Imanan dan ke-Taqwaan seseorang kepada Sang pencipta. Dalam karangan kitab Ibnu Al-Qayyim-Mata Air Hikmah, terdapat lima langkah untuk mencapai kekuatan berpikir ilmiah dan empat langkah untuk mencapai kekuatan melaksanakan kehendak. Pertama, Manusia hanya akan mencapai kesempurnaan kekuatan berpikir ilmiah apabila: (1). Mengenal penciptanya, mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, (2). Mengetahui jalur yang dapat membawa kepada-Nya, (3). Mengetahui larangan-larangan-Nya, (4). Mengetahui jiwanya, (5). Mengetahui aib cacatnya. Kedua, Manusia hanya akan mencapai kesempurnaan kekuatan melaksanakan kehendak tidak akan tercapai, kecuali dengan (1). Menunaikan hak-hak Allah Subhaanahu wata`ala terhadap jiwa hamba-Nya, (2). Melaksanakannya dengan ikhlas, jujur, baik daan ketaatan sepenuhnya, (3). Menghayati karunia-Nya, (4). Merasa malu untuk menuntut haknya sendiri. Tidak ada jalan lain  bagi seorang hamba untuk menyempurnakan kedua kekuatan tersebut, kecuali atas pertolongan-Nya. Hamba perlu petunjuk Allah Subhaanahu wata`ala kepada jalan yang lurus yang telah ditunjukkan kepada para wali dan orang-orang yang dicintai-Nya.
Di samping itu, dia juga perlu menjauhi segala sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari jalur itu, baik yang menyebabkan kerusakan pada kekuatan ilmiahnya, sehingga tersesat maupun yang merusak kekuatan amaliahnya, sehingga mendapat murka. Agar terjauh dari hal-hal negatif diatas maka perlu dikuatkannya aqidah. Aqidah ini akan kuat jika seseorang tersebut berpegang teguh kepada al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah.
Semua ayat al-Qur`an dan sunnah Rasulullah dalam masalah aqidah tidak keluar dari tiga bagian ini, yaitu: Pertama: Tauhid ar-Rububiyah. Ialah, mentauhidkan dan mengesakan Allah Subhaanahu wata`ala dengan segala perbuatan-Nya. Seperti mencipta, member rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam semesta. Kedua: Tauhid al-Uluhiyah atau Tauhid al-Ibadah; karena al-Uluhiyah maknanya adalah ibadah kepada Allah Subhaanahu wata`ala dengan mencintai-Nya, takut terhadap-Nya, menaati perintah-Nya, dan meningggalkan larangan-Nya. Ketiga: Tauhid al-Asma` wa ash-Shifat. Ialah, menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu`alaihi wasallam berupa nama-nama dana sifat-sifat, kemudian menyucikan-Nya dari segala yang Dia sucikan diri-Nya dari padanyadan disucikan darinya oleh Rasul-Nya Shallallahu`alaihi wasallam berupa cela dan kekurangan.
Ketiga macam Tauhid paragraf di atas memberitahukan bahwa pentingnya untuk menyempurnakan akhlak agar terjadinya hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi pondasi ke-Imanan dank ke-Taqwaan terhadap Allah Subhaanahu wata   `ala. Jika seseorang tersebut dapat memahami dan mengamalkan ketiga tauhid tersebut, Insya Allah kesempurnaan kekuatan pikiran dan kekuatan melaksanakan kehendak akan tercapai. Kesempurnaa itulah yang nantinya membawa kita menuju kebahagian hakiki dengan dihiasi oleh iman dan taqwa yang kokoh.

                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar